Dua puluh empat april dua ribu dua puluh enam,
Memulai babak pertama di taman kota, menatap senja yang perlahan mulai menepi. Di bawah deretan gedung tinggi, cemas merayap takut hujan akan turun kembali. Sesekali kau ketuk dua kali layar ponsel untuk melihat pukul berapa saat ini, mengukur awal perjumpaan sambil memandangi kendaraan silih berganti. Namun di tengah riuh keramaian kota ini, rasa nyaman bersamamu perlahan mulai menemani.
Hembusan udara kian dingin menyapu sisa basah dari hujan sorenya. Uap air menebal menjadi embun yang perlahan menyelimuti suasana. Kupandangi layar ponsel sekadar memastikan angka, tak menyangka malam bergulir larut di luar duga. Duduk tenggelam dalam obrolan berdua, laju detik waktu menjadi sama sekali tak terasa lama.
Kita beranjak mengejar kereta terakhir pukul sebelas lewat tujuh, lalu mencari tempat kopi untuk merangkai cerita baru. Sempat kulirik lagi waktu yang kian melaju, menyadari hangatnya perbincangan membuat segala canggung perlahan berlalu. Kuberanikan diri menatap lekat indah matamu tanpa ada lagi rasa ragu. Kau yang menyadari pandangan itu, seketika menunduk pelan sambil tersenyum tersipu malu.
Lewat diam kucoba mengenalkan tatap mataku yang sarat akan makna. Kutanggalkan kebiasaan mengecek waktu, membiarkanmu melihat sendiri ke mana tujuan arah terka binar netra. Di dalam sorot mata ini sungguh tak lagi menyimpan banyak rahasia. Sebab isinya hanyalah jejak kelana yang berhenti menghitung masa karena terpikat sebuah pesona.
Panjangnya malam akhirnya menepi pada kisah yang begitu sempurna. Bias fajar merona merengkuh detik terakhirku melihat jam, tepat saat pagi menjelma di Pondok Cina. Untuk sebuah jumpa pertama, segala putaran waktu yang kita lewati terasa teramat bermakna. Menjadi sebuah kenangan manis, untuk yang pertama kalinya merelakan malam berujung pulang pukul lima.