Waktu awal-awal masuk kuliah, saya sempat mengalami culture shock dengan beberapa mata kuliah. Sebagai mahasiswa Electrical Power, ekspektasi saya tentu akan banyak berurusan dengan sistem tenaga listrik. Tapi realitanya, saya malah dihadapkan dengan deretan matkul otomasi industri: Sistem Kontrol, Praktikum Mikrokontroler, sampai Praktikum PLC. Buat saya yang harus punya "alasan kuat" sebelum belajar sesuatu, matkul-matkul ini lumayan bikin frustrasi. Waktu itu saya bergumam, "Lho, jurusanku wae electrical power, ngopo kudu belajar hal-hal koyo ngeneki? Otomasi sek angel!" Puncak pusingnya adalah ketika harus memeras otak membuat program PLC untuk lampu merah 10 simpang, atau saat ngerjain tugas akhir matkul Sistem Kendali tentang spring-mass-damper.
Sekian semester berlalu, tibalah saya di semester 6. Waktunya melanjutkan kuliah dengan jalur konversi magang industri. Saya masuk ke sebuah perusahaan industri, spesifiknya di section power yang salah satu jobdesknya mengurus pasokan daya (power) untuk kebutuhan industri. Awalnya semua terasa aman, sampai suatu hari saya mendapat task untuk menambahkan power meter di salah satu plant. Pikir saya waktu itu, "Ah, power meter doang, gampang lah." Ternyata oh ternyata, di industri ini ada ratusan power meter yang datanya ditarik dan diwadahi oleh... YAP, BETUL SEKALI. SATU BUAH PLC. Segala hal yang saya hindari di masa kuliah malah jadi makanan sehari-hari di sini. Mau tidak mau, saya harus buka-buka lagi catatan lama dan belajar ulang cara programming PLC dengan rung yang panjangnya minta ampun. Soalnya, PLC ini bukan cuma jadi terminal koneksi buat semua power meter itu, tapi juga bertugas untuk logging parameter kelistrikan ke database.
Seakan "plot twist" ini belum cukup, entah bagaimana ceritanya saya juga salah mengambil konversi mata kuliah SCADA. WKWKWK. Ya sudahlah, sepertinya semesta memang menyuruh saya mengalah dan berteman dengan sistem otomasi. Perlahan tapi pasti, saya mulai mencicil belajar lagi. Saya pelajari pelan-pelan metode komunikasinya dan bagaimana cara membaca si power meter ini. Kebetulan, brand PLC yang dipakai di industri ini berbeda dengan yang biasa dipakai waktu praktikum di kampus. Menariknya, brand yang ini ternyata jauh lebih masuk akal dan fleksibel. Salah satu fitur andalannya adalah kita bisa membuat tipe data sendiri di tags PLC-nya—buat yang sudah sering ngoprek otomasi, pasti tau lah ya brand apa ini WKWKWK. Kepraktisan ini bikin proses troubleshooting dan adaptasi saya jadi lumayan bisa dinikmati.
Fase "menelan ludah sendiri" inilah yang akhirnya memberi saya alasan kuat; dimana saya mendapatkan jawaban dari pertanyaan "buat apa belajar ini"—yang dulu selalu saya cari-cari. Dan karena itu pula, saya memutuskan untuk menulis seri ini. Ke depannya, episode ini akan banyak ngulik dan membahas tuntas tentang Sistem Kontrol serta eksplorasi di dunia HMI/SCADA dari kacamata anak Power yang lagi tobat.