Aruntala

Aruntala

Wildy Zhalifunnas

Wildy Zhalifunnas

”Aku hanya butuh suasana syahdu. Aku tahu dirimu, di sini, kebunmu, dan kamu yang selalu mengerti seluruh inginku." ujarmu sambil membawa teh bunga telang kesukaanmu itu.

At the end of the day, love isn't about fixing or changing somebody. It's about understanding them, accepting them, staying, and always trying."

Dua hari berikutnya berlalu tanpa kabar.

Aku tidak mengirimkanmu pesan. Aku hanya membersihkan kebun, memindahkan pot-pot aglonema, dan kuku-kukuku kembali menghitam.

Lalu pada hari ketiga, seperti biasanya tiba-tiba kamu datang lagi. Kamu duduk di teras, membawa minuman beraroma teh telang seperti duniamu yang asing itu- dan aku diam.

Mungkin kamu merasakan perbedaannya. Mungkin keheninganku terasa lebih berat dari biasanya.

"Kamu kenapa?" tanyamu.

Tiba-tiba kamu berdiri, senyum tipis terbit di wajahmu. "Tapi malam ini energiku sudah terisi lagi. Sedikit. Dan aku sudah sangaaat LAPAAARRRR"

Kamu mengulurkan tanganmu padaku. "Kamu mau pergi denganku?”

Ini adalah hal baru. Biasanya kamulah yang datang ke duniaku.

"Ke mana?" tanyaku, sambil mengusap tanganku yang kotor tanah ke celanaku.

"Mencari makan, kita makan bakmi di dekat Kotabaru kesukaanku"


Kita duduk di bawah lampu jalan, sebuah warung bakmi tenda. Jauh dari kebunku yang rimbun, juga jauh dari gedung-gedung kantormu yang tinggi.

Aku memperhatikanmu memesan bakmi rebus-mu dengan ekstra kecap, sedikit sayuran, dan tanpa seledri. Aku jadi tahu, kamu suka masakan manis.

Baru saja kami memesan, tak lama hujan gerimis turun. Awalnya hanya rintik, lalu semakin deras. "Ayo lari!" katamu sambil tertawa.

Kita berlari menuju bagian dalam tenda penjual bakmi yang lebih teduh.

"HAHAHAHAHAH tiba-tiba aja ujan," masih terengah, dan kamu melihatku. "Jaketmu basah, baiknya dicopot saja ya..."

Seraya mencari cara, tinta kan kembali basah...
Sepasang keras kepala yang mampu saling membaca…..
Dalam duga.
Keinginan yang dalam.
Lurus dan tulus Tangguh dan sungguh Tunggak bersemi.
Serahkan diri.
Untuk luka dan kecewa.

Saat masuk ke tenda, terdengar musik yang diputar oleh penjual bakmi. Alunannya syahdu, seolah mengerti suasana.

"Judulnya cantik, Aruntala," ujarmu pelan, seolah berbisik padaku.

Aku menoleh kaget. "Kamu suka lagu-lagunya Fanny Soegi?" tanyaku sembari melepas jaketku.

"SUKAA SEKALI !!!

sama seperti namanya, artinya pun juga cantik. Diambil dari Bahasa Sansekerta, aruntala artinya cita-cita tinggi dan mulia".


Di sini, aku mulai mempelajari hal-hal kecil tentangmu yang tidak pernah kutahu sedari dulu.

Alih-alih bertanya tentang kamu berkamuflase menjadi angin atau burung pengelana seperti episode kemarin, aku mendapati diriku berpikir hal lain.

Aku sangat, sangat tertarik untuk mengenalmu lebih dalam. Memahami duniamu yang asing itu, cerita tentang harimu yang berlalu, dan apa yang membuatmu selalu kembali ke terasku.

Semoga bertahan lebih lama, ya.

auto_awesome Related Articles